Minggu, 12 Januari 2014

Wahai Pemuda, Bbagkitlah...!!!!!

Pemuda Hapan Bangsa Bukan Berharap Pada Bangsa

Jangan pernah bertanya apa yang negeri ini sudah berikan kepada kita, tetapi pertanyakanlah apa yang sudah kita berikan untuk negeri ini.

Sebuah kalimat bijak diatas mengajarkan kepada kita akan sebuah peranan yang seharusnya dijalankan sebagai warga negara, terlebih lagi sebagai pemuda yang merupakan tunas bangsa, pewaris peradaban. berbagai kegiatan, menjadi bagian dari solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada dari bangsa ini dan suatu alsan untuk terus berkontribusi secara optimal dalam kerja-kerja nyata.

Mimpi adalah kunci…
Untuk kita, lewati dunia...
Walau hidup kadang tak adil…
Tapi cinta lengkapi jiwa...

Lirik diatas adalah kata-kata yang paling tidak, cukup mewakili untuk menggambarkan sebuah cerita, cerita dari gerakan perubahan dan sebuah pengorbanan dari bagian kehidupan beberapa pemuda. Sekumpulan pemuda-pemuda biasa yang hanya melakukan pekerjaan biasa, pekerjaan kecil namun, secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil itu menjadi gunung karya yang mengabadi. Pemuda-pemuda sederhana yang bersedia berkata Ya, saat diminta kesediaannya untuk berjalan bersama melewati jalan yang berliku, penuh duri, hanya sedikit pengikutnya sehingga tidak jarang harus rela mengorbankan tidak hanya apa yang ia miliki tetapi apa yang dia cintai.

Pemuda disebut-sebut sebagai segmen yang tercerahkan, hal ini karena pemuda memiliki kemampuan intelektual yang baik.. Sejarah mengisahkan bahwa pejuang dan pendiri bangsa adalah kalangan pemuda. Mustafa Ghalayani pernah berkata “Ditangan mu pemuda terletak urusan umat/bangsa dan di kaki mulah penentu hidup dan kejayaan bangsa”. Memang dalam diri pemuda terkumpul semangat yang di butuhkan oleh negeri ini untuk kembali bangkit dari keterpurukan, semangat berani, obsesif, jujur, siap menerima perubahan (anti status quo), pembelaan tanpa mengharapkan kekuasaan, kekuatan fisik, kecerdasan akal, keikhlasan beramal, serta keteguhan dalam memegang prinsip idieologi haruslah menjadi dasar gerakan seorang pemuda sebagai agen perubahan (Immawan Eko Prihtion, 2007). Hal itulah yang membawa angin segar dan membentuk jiwa optimisme pemuda. Pemuda adalah generasi penerus bangsa, pewaris peradaban yang harus memerankan peranan sebagai pelaku perubahan (agent of change). Hal ini tidak dapat ditawar lagi karena mau tidak mau, suka atau tidak suka, sanggup atau tidak sanggup, pemudalah yang akan menggantikan kedudukan generasi-generasi sebelumnya yang saat ini sudah tampak tua dan lelah dalam membangun bangsa. Hal inilah yang saya maksud dalam judul tulisan ini pemuda adalah harapan bangsa bukan berharap kepada bangsa.

Pemuda  sebagai kaum intelektual, saat ini tengah berada di persimpangan. Antara perjuangan idealisme dan pragmatisme, patriotisme dan apatisme. Sebutan yang melekat sebagai agent of change and social control, yang pernah disandang oleh pemuda kini mulai pudar seiring dengan berjalannya waktu. Jika kita membuka lembaran sejarah perjuangan kemerdekaan, maka kita akan melihat lembaran bertuliskan tinta emas yang mengharumkan nama pemuda. Sekelompok kecil dari mereka menempati posisi terdepan, yakni sebagai pelopor, bukan pengekor yang sekarang banyak dilakukan oleh pemuda saat ini. Sejarah mencatat Budi Utomo sebagai organisasi pertama yang mengubah watak pergerakan perlawanan, yang semula bersifat kedaerahan menjadi bersifat kebangsaan. Dari sana kemudian bangsa ini disadarkan bahwa untuk dapat mencapai kemerdekaan, haruslah ada persatuan dan perasaan senasib sepenanggungan yang melandasi perlawanan terhadap penjajah. Bukan hanya itu, lebih jauh lagi ketika kita membuka lembaran sejarah perjuangan pasca kemerdekaan, kita juga akan menjumpai beberapa lembaran yang kembali mengharumkan nama pemuda. Jatuhnya rezim orde lama dan orde baru pun tak lepas dari kepeloporan pemuda yang menjadi garda depan perjuangan.

Pemuda pada saat ini seolah-olah tidak mewarisi semangat nasionalisme yang dikobarkan Sukarno, Hatta, Budi Utomo, Syahrir dan banyak tokoh-tokoh pemuda lainnya. Mungkin tidak terlau salah jika kemudian sebagian orang kini mengatakan bahwa nasionalisme pemuda kita telah berubah menjadi materialisme dan hedonisme, patriotisme telah berubah menjadi apatisme. Fenomena ini tercermin dari keengganan sebagian pemuda kita untuk memikirkan masalah kebangsaan. Mereka sudah tidak lagi memposisikan dirinya sebagai harapan bangsa, kini mereka lebih suka berleha-leha menggantungkan harapannya pada bangsa ini. Jangankan soal kebangsaan, sebuah contoh real untuk masalah yang ada di sekitarnya saja banyak yang tidak peduli. Karang taruna didesa-desa sudah tidak ada lagi pemuda yang melirik sehingga menjadi organisasi kepemudaan yang dapat diistilahkan hidup segan tetapi matipun tak mau. Contoh lainnya lagi adalah pengalaman saya ketika menjadi ketua disebuah organisasi siswa semasa SMA. Sangat sulit sekali mencari orang yang mau aktif terlibat dalam keorganisasian. Kejadian ini pun berulang ketika saat ini saya menjabat sebagi ketua salah satu lembaga kemahasiswaan saat ini. Kebanyakan dari mereka (baca :pemuda) lebih senang memikirkan untuk bersenang-senang dan kepentingannya sendiri.

Kesemua fenomena-fenomena tersebut jika kita kaji banyak sebab yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan atau minimalnya semangat untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial yang merupakan warisan para pendahulu kita. Salah satunya adalah karena mereka kehilangan figur teladan. Mereka melihat tidak adanya figur teladan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan keadaan bangsa. Mereka tidak memiliki panutan yang menjadi tolak ukur dalam setiap perbuatanya. Sebab lainnya adalah mereka tidak memiliki rasa percaya diri, mereka tidak “Pede” untuk melakukan suatu hal yang sekalipun itu pantas dan mampu ia lakukan. Hal ini timbul dari tidak adanya kepercayaan yang diberikan golongan tua kepada pemuda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Banyak dari pemuda-pemuda yang merasa bahwa kemampuan mereka dalam suatu bidang kurang bisa ditampilkan secara maksimal oleh karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki posisi yang sebenarnya mereka pantas untuk mengisinya.Kreativitas mereka seolah olah terkekang bahkan mungkin terbunuh. Selain itu juga minimnya penghargaan yang diberikan kepada pemuda turut andil dalam menciptakan kondisi pemuda saat ini. Sebagian besar pemuda, putra-putri terbaik bangsa yang berprestasi tidak diberikan penghargaan yang wajar dan semestinya. Contohnya adalah misalnya ketika ada seorang siswa yang aktif di OSIS atau mahasiswa yang aktif dilembaga kemahasiswaan, seharusnya dia mendapatkan perhatian dan perlakukan istimewa yang sedikit aga berbeda bukan malah menjadi musuh dengan para guru/dosen dikarenakan mungkin nilainya turun atau sering tidak ikut pelajaran dikarenakan mengurusi kegiatan yang sebenarnya juga untuk kepentingan sekolahnya. Contoh lainya adalah jika ada siswa yang berprestasi. Seharusnya prestasinya sudah merupakan jaminan pasti baginya untuk terus sekolah melanjutkan pendidikan sampai selesai, tetapi apa yang sekarang terjadi? banyak siswa atau pun mahasiswa yang pintar dan berprestasi tetapi berhenti sekolah hanya karena kurang mampu membiayai sekolahnya.

Dihadapkan pada masalah tersebut, kita seyogianya dapat memandang secara arif bijaksana untuk kemudian menyelesaikannya. Sudah saatnya kita yang saat ini mudah-mudahan tersadarkan, mau mengawalinya. Mengawali perubahan, membangun kembali jiwa sosial kita, rasa peduli terhadap sesama, semangat nasionalisme, sampai kepada memberikan figur keteladanan, sehingga dari sana semangat dan ruh-ruh baru yang luar biasa yang kita miliki kemudian akan menular dan menduplikasi kepada pemuda yang lain. Sudah saatnya kita kembali memerankan peranan kita sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik. Kita harus lebih memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan kemampuan sesuai dengan kapasitasnya, sehingga mampu untuk memperbaiki keadaan bangsa, mewujudkan cita-cita besar sumpah pemuda sesuai kompetensinya masing-masing. Cukup berat memang tapi ini dalah jalan yang harus ditempuh, lelah memang tapi disinilah justru letak kenikmatan yang sebenarnya.
Terus berjuang bangkitlah wahai pemuda karena harapan itu masih ada…



PEMUDA BANGKITLAH...!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar